Selamat datang di Dibo Piss Media

Soal Transportasi, Jakarta Bisa Belajar dari Singapura

Jumat, 22 Juni 20120 komentar

Kemacetan lalu lintas telah menjadi masalah kronis di wilayah ibu kota. Nyaris setiap hari pengguna transportasi dipusingkan oleh kemacetan seperti tiada habisnya.

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mengatasi masalah tersebut, namun hingga kini belum membuahkan hasil. Bahkan kemacetan justru semakin bertambah parah.

Sepertinya, upaya mengoperasikan bus Transjakarta yang hingga kini telah mencapai 11 koridor juga belum mampu menarik minat pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke moda transportasi dengan jalur khusus tersebut.

Karena itu, tidak ada salahnya jika Jakarta belajar ke Singapura yang telah menjadikan MRT sebagai tulang punggung transportasi massal di Negeri Singa tersebut. Sehingga transportasi massal mempu mengakomodasi kebutuhan warganya. Meski hanya negara kecil dengan penduduk 5 juta jiwa, Pemerintah Singapura mulai membenahi infrastruktur negerinya sejak memperoleh kemerdekaan yang diberikan oleh Inggris pada tahun 1965 silam. Apalagi, Jakarta juga tengah berupaya mengembangkan proyek MRT.

Selain pengembangan transportasi massal, Pemprov DKI Jakarta juga perlu mencontoh kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah Singapura mengenai kepemilikan kendaraan pribadi. Pemerintah Singapura benar-benar memberikan peraturan yang sangat ketat bagi kepemilikan, peruntukan, dan waktu penggunaan kendaraan pribadi.

Seperti harga mobil yang sangat mahal, kuota rotasi mobil baru tiap lima tahun sekali, penerapan ERP (electronic road pricing) dan vehicle quota system sejak 1990 yang membuat warganya mau tidak mau beralih kepada kendaraan pribadi. Bahkan Pemerintah Singapura membebankan pajak yang besar untuk pemilik kendaraan pribadi.

Tetapi Pemerintah Singapura tetap berkomitmen memberikan sarana transportasi yang sangat layak, nyaman dan aman bagi warganya, termasuk bagi warga asing yang sedang berkunjung. Bahkan untuk menggunakan MRT warga asing tidak akan kesulitan, karena telah dibangun sistem yang baik. Semua angkutan massal di Singapura terintegrasi, baik antara angkutan yang berbasis rel maupun bus.

Otoritas Transportasi di Singapura Land Transport Authority (LTA) salah satu departemen di bawah Kementerian Perhubungan Singapura menjelaskan satu-satunya tujuan pembangunan dan pengembangan MRT adalah memberikan kemudahan aksesibilitas bagi setiap penggunanya. MRT diperuntukan bagi seluruh warga Singapura dengan harga yang terjangkau baik oleh warga yang berada pada kelas ekonomi menengah.

Untuk pembelian awal tiket MRT misalnya, anda hanya perlu deposit sebesar 1 dollar Singapura atau sebesar Rp 7.200. Dan dengan rute terjauh pun Anda hanya akan dikenakan tarif tidak lebih dari 3 dollar Singapura.

LTA menyadari bahwa sistem transportasi yang baik adalah salah satu kunci utama yang memicu pembangunan ekonomi yang pesat dan sehat. Perubahan tersebut pun dimulai pada 1970 dimana LTA mengkonsolidasikan 10 operator transportasi umum swasta menjadi hanya dua operator saja. LTA mulai mengembangkan sistem transportasi dengan MRT yang mulai dibangun pada tahun 1987 yang dikenal dengan “the first section of the MRT system”.

Tak hanya mengatur sistem transportasi umum seperti MRT, LTA juga memiliki otoritas untuk mengatur akses bagi pemilik kendaraan pribadi. Jika anda pergi ke Singapura dan memperhatikan plat mobil kendaraan pribadi disana, maka anda akan menemukan beragam jenis kode plat. Singapura berbeda dengan Indonesia yang memberikan perbedaan nomor plat yang mengacu kepada daerah asal kendaraan tersebut. "Seperti plat mobil khusus yang bisa memasuki kawasan segitiga emas atau central business district, dan apabila ada mobil dengan plat lain memasuki daerah tersebut maka dia akan terkena denda yang cukup besar," Khrisna, Manager Komunikasi LTA, di Singapura akhir pekan lalu.

Ada juga mobil dengan plat merah yang diperuntukkan bagi kendaraan pribadi yang hanya boleh digunakan pada hari Sabtu dan Minggu saja. Namun demikian industri kendaraan pribadi di Singapura sempat mengalami kebangkrutan akibat adanya peraturan ini, namun hal tersebut dapat teratasi dengan semakin membaiknya sistem transportasi umum.

Sistem yang dibangun oleh Pemerintah Singapura juga perlu dicontoh, salah satunya tidak perlu menempatkan ratusan aparat kepolisian lalu lintas di jalan raya. Di Singapura hanya perlu menempatkan sejumlah kamera perekam atau closed circuit television (CCTV) di tiap ruas jalan maka keamanan dan ketertiban di jalan raya pun juga tetap terjamin. CCTV akan merekam seluruh aktivitas warga di Singapura selama 24 jam. Ketika ada yang melakukan pelanggaran, maka CCTV tersebut akan secara otomatis merekam dan sistem tersebut akan langsung terintegrasi dengan sistem denda yang akan langsung diantarkan ke rumah pelanggar.

Sementara itu, di Jakarta sendiri pembangunan MRT telah memasuki tahap tender. Diperkirakan pada akhir 2012 pembangunan akan dimulai. Diharapkan dengan demikian akan lebih banyak lagi masyarakat yang beralih ke angkutan umum. Sebab MRT di Jakarta akan dibuat mirip dengan Singapura.

Kepala Divisi Sipil dan Struktur PT MRT Jakarta, memastikan pembangunan MRT akan dilakukan mulai akhir tahun 2012. Namun pada Mei tahun ini, akan dilakukan pekerjaan tahap awal yakni pemindahan Stadion Lebak Bulus, pelebaran jalan Fatmawati-Panglima Polim, dan pemindahan utilitas. Nantinya MRT di Jakarta akan dibagi menjadi dua koridor yaitu koridor Selatan-Utara yang terdiri dari dua tahap yakni Lebak Bulus-Bundaran HI untuk tahap pertama dan Bundaran HI-Kampung Bandan untuk tahap kedua. Sementara untuk koridor Timur-Barat akan membentang dari Cikarang-Balaraja. Untuk koridor Timur-Barat, hingga saat ini masih dalam studi kelayakan di Kementerian Perhubungan. 
Reporter: erna / sumber
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Dibo Piss Media | Dodie | Ibob Plur
Copyright © 2016. Dibopiss Media - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by Dodie
Proudly powered by Blogger